Travel Digital Milinieal Era

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi millennial. Generasi ini lahir setelah zaman generasi  X, atau tepatnya  pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi millennial memiliki rentang usia 17 hingga 37 tahun. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 80 juta orang yang berusia antara 17 hingga 37 tahun.  Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian yang telah dilakukan terhadap generasi millennial, ditemukan banyak perbedaan antara generasi ini dengan generasi-generasi yang lebih tua, seperti generasi silent, generasi boomer, maupun generasi X. Perbedaan tersebut terlihat dalam gambar di bawah ini.  

Dari gambar di atas, diketahui bahwa generasi millennial sangat dekat dengan teknologi. Kehidupan generasi ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan internet, berbeda dengan generasi X di mana pengaruh dari teknologi belum terlalu menonjol seperti saat ini. Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya. Ada pula perbedaan lain yang muncul antara generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari. Ada kecenderungan bahwa generasi millennial lebih suka mendengarkan musik dan hang out asik bersama teman-temannya. Maka tak mengherankan bila banyak kafe atau tempat nongkrong lainnya yang ramai dikunjungi anak muda zaman now, karena itulah kehidupan sosial mereka.   

Dalam melakukan traveling cara millennial, mulai dari merencanakan hingga melakukan traveling, pasti berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Berkat lahirnya era digital dan teknologi yang terus-menerus berkembang, kita bisa melihat bagaimana gaya traveling si millennial ini.

Kalau generasi sebelumnya selalu mencari travel agent berlokasi dalam sebuah bangunan yang kemudian menawarkan produk lengkap tersedia di brosur tebal, berbeda dengan halnya millennial. Keberadan media sosial dan website traveling membuat mereka mudah mencari lokasi liburan

Ada pun travel agent masa kini lebih kepada sekumpulan orang pencinta traveling yang menawarkan paket menarik melalui internet. Bahkan biasanya sekumpulan anak muda dengan kehebatan koneksi mereka bisa membuat paket open trip ke suatu tempat wisata yang kekinian

Lagi-lagi berkat kemudahan teknologi, para traveler millennial kini juga tertarik membangun grup traveling sehingga bisa share cost untuk perjalanan yang lebih murah. Cukup dengan masuk di grup atau komunitas backpacker di media sosial misalnya, kemudian membuka percakapan dengan mengajak siapa yang mau gabung jalan-jalan dengannya. 

Saat melakukan kegiatan traveling, memposting foto saat mereka mengunjungi tempat wisata di media sosial, kini telah menjadi gaya hidup digital para kaum muda, khususnya generasi millennial. Alih-alih mengeksplorasi alam dan merasakan pengalaman budaya dan tradisi masyarakat setempat, prioritas millenial justru pada mengambil foto lokasi yang berkarakter instagramable.   

Destinasi wisata yang instagramable seperti inilah yang menjadi buruan para generasi muda kelahiran tahun 1980-200-an tersebut. Media sosial instagram pun menjadi salah satu acuan wisatawan dalam memilih destinasi dan menemukan ide berwisata. 

Sebuah penelitian yang dilakukan situs travel, Expedia, terhadap para traveler muda usia 18-34 tahun mengungkapkan dua dari tiga responden menyatakan instagrammability sebuah lokasi adalah faktor penting dalam memilih destinasi wisata, sebelum memesan tiket. 

Kurang puas rasanya kalau belum berbagi pengalaman traveling mereka di social media atau berbagi cerita perjalanan di blog. Kini semakin banyak travel blogger atau akun social media pribadi yang mencatat statusnya sebagai travel enthusiast. Dimulai dari akun pribadi, semua orang bisa tahu apa saja yang dilakukan para penikmat traveling ini.

Karena semakin transparannya para penikmat traveling yang bisa kita lihat di dunia maya, semakin banyak orang yang termotivasi untuk melakukan hal yang sama dan mengunjungi berbagai kota atau negara sebanyak mungkin. Bisa dibilang generasi millennial melakukan traveling bukan lagi hanya sebagai turis, tetapi lebih daripada itu. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lokal.

Berkat adanya internet, para generasi millennial dapat dengan mudah melakukan perencanaan traveling dan menyebar luaskan apa yang sudah mereka alami. Membagikan momen-momen saat mereka berlibur ataupun mencari tempat wisata yang sedang hits dapat mereka lakukan dengan mudah.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started