Bali Siap Bersaing Di Era Global

Persaingan dunia kerja semakin ketat ke depannya. Karena itu diperlukan sumber daya manusia yang tangguh dan siap menghadapi kompetisi di era globalisasi.  Karena itulah kami berupaya mencetak tenaga-tenaga terampil yang diperlukan pangsa pasar, sehingga bisa bersaing dalam mencari pekerjaan. Tanpa diimbangi SDM yang andal dan tangguh maka kita akan kalah bersaing dalam dunia kerja pada era globalisasi, ke depan dalam era globalisasi dan pasar bebas, maka yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang andal dan menyiapkan tenaga sesuai kebutuhan pasar kerja.

                Semua itu sudah di siapkan untuk mendidik para mahasiswa yang mau maju dan profesional di bidangnya masing-masing. Di kampus kami ada tujuh jurusan, antara lain Manajemen Informatika dan Komputer, Manajemen Administrasi Rumah Sakit dan Manajemen Administrasi Bisnis,” ujarnya.

 Bali juga perlu ciptakan SDM yang siap kuasai ekonomi berbasis digital di tengah persaingan global yang ketat. Dengan menguasai ekonomi berbasis digital, setidaknya akan mampu mengikuti derasnya arus di bidang ekonomi berbasis digital saat ini maupun yang akan datang. “Ini merupakan tantangan kita (Bali), bagaimana saat ini maupun yang akan datang. Bali harus siapkan SDM yang betul-betul siap bersaing terutama dibidang ekonomi berbasis digital. Sehinga, akan mampu berselanjar diatas derasnya gelombang ekonomi berbasis digital ini,” jelasnya.  Dia juga menyampaikan, harus ada mekanisme yang tepat. Terutama terkait teknologi Digital.enghadapi isu ini (ekonomi berbasis digital) harus ada mekanisme yang tepat juga. Karena, melihat perubahan prilaku konsumen yang cendrung ikut berubah. Sehinga dunia bisnis mau tidak mau harus  juga mengiikuti perubahan yang ada,” ujarnya. Adapun alasan kenapa Bali merupakan salah satu alternatif para starup luar, karena selain para starup luar dapat melakukan aktivitas mengunjungi objek-objek menarik di Bali. Juga, biaya oprasional mereka (starup) akan mampu  ditekan, serta kualiatas hidup akan sangat bagus didapat para starup di Bali juga.

Dari segi pariwisata Bali sudah mengirim sumber daya manusia (SDM) yang andal dalam bidang pariwisata, khususnya tenaga kapal pesiar ke Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya di belahan dunia. Hal itu menunjukkan SDM bidang pariwisata dari Bali sudah mampu bersaing di pasar global, namun lembaga pendidikan bidang pariwisata setempat masih tetap dituntut untuk mampu meningkatkan mutu lulusannya. Demikian pula dalam bidang pendidikan khususnya perguruan tinggi di Bali kini banyak menerima mahasiswa dari mancanegara. mahasiswa asing yang melanjutkan studi di Bali umumnya berada di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kebanyakan dari mereka berasal dari berbagai negara di belahan dunia. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah mahasiswa asing yang datang dari berbagai negara melanjutkan studi di Bali untuk mempelajari dan mendalami seni budaya, khususnya tabuh dan tari Bali. emprov juga telah melakukan usaha di bidang pemberdayaan dan perlindungan Koperasi dan UMKM, pembentukan PT Jamkrida serta fasilitasi pada sumber-sumber pemodalan, pasar dan produksi.

Segala upaya itu diharapkan bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi angka pengangguran, menurunkan tingkat kemiskinan serta untuk mempercepat pemerataan pendapatan masyarakat.

Kebudayaan , Kebudayaan adalah esensi kehidupan bangsa. Mengenal kebudayaan bangsa berarti mengenal aspirasinya dalam segala aspek kehidupannya sedangkan pariwisata adalah keseluruhan gerakan manusia yang melakukan perjalanan atau pesinggahan sementara dari tempat tinggalnya ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar lingkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan atau motif tanpa bermaksud mencari nafkah tetap.

Oleh karena itu masalah kebudayaan dan pariwisata menjadi sangat menarik, terutama dalam era globalisasi yang telah memasuki seluruh penjuru dunia dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan komunikasi. Bukan negara-negara yang berkembang dengan budaya etnisnya yang menonjol, tetapi juga negara-negara maju pun menghadapi tantangan-tantangan baru, meskipun integrasi nasional mereka sudah mantap.

Mereka mencari jalan keluar untuk mengatasi ekses-ekses negatifnya. Gobalisasi merupakan gejala yang tidak dapat dihindarkan, tetapi sekaligus juga membuka kesempatan yang luas. Gejala ini mulai menonjol sejak awal abad ke-20 dan mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya bangsa-bangsa. Globalisasi disebabkan oleh kemajuan-kemajuan Iptek, terutama di bidang teknologi komunikasi yang membawa dunia saling berdekatan dan mudah berkomunikasi melalui berbagai media. Yang paling berpengaruh adalah perkembangan dari dunia pertelevisian.

Bali sebagai bagian dari Indonesia, pulau yang kecil tapi amat terkenal di dunia, berkat kebudayaanya melalui komunikasi pariwisata, tak dapat menjauhkan diri dari arus globalisasi ini. Bahkan kelihatannya Bali makin intensif berhubungan dengan perkembangan dunia kepariwisataan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi komunikasi itu sendiri. Masalahnya sekarang apa yang harus dilaksanakan untuk menghadapi tantangan di bidang kebudayaan dan pariwisata Bali sehubungan dengan terjadinya globalisasi tersebut?.

Persoalan menyangkut kepariwisataan sampai kapanpun selalu menarik dibicarakan. Menarik, mengingat, disadari atau tidak, pariwisata akan hadir selamanya, selama manusia hadir dimuka bumi ini. Tak seorangpun penghuni planet bumi yang berjuluk manusia ini luput dari kegiatan yang namanya wisata, rilek atau santai. Kita sisadari atau tidak dalam hidup ini pasti pernah menjadi turis atau paling tidak menjadi pelancong. Dengan demikian berarti kegiatan wisata bukan semata monopoli orang kaya apalagi orang kulit putih atau kulit kuning. Sementara masyarakat masih menganggap bahwa pariwisata adalah semata-mata bisnis atau urusan mereka yang berkecimpung pada bidang pariwisata seperti hotel, biri perjalanan, restaurant atau atraksi wisata. Mereka lupa dengan hadirnya pariwisata pembangunan menjadi semakin pesat mengingat pariwisata mendatangkan pemasukan cukup besar kepada daerah maupun negara. Mereka lupa bahwa pariwisata memungkinkan adanya pembukaan lapangan pejkerjaan baru dalam jumlah yang cukup besar.

Jenis Usaha dan Strategi Agar Senantiasa Berkembang

Memulai usaha baru memang menjadi tantangan tersendiri bagi pemula. Tak peduli apapun sekala bisnis yang ingin Anda jalankan, besar ataupun kecil tetap menantang dan membutuhkan mental yang kuat.           Tujuannya agar kita bisa melatih diri untuk menjadi pengusaha dan memiliki mental pebisnis dan mengumpulkan modal yang lebih besar. Sehingga kita akan terpacu mencari cara bagaimana agar usaha bisa terus berkembang. Apapun itu, yang penting dijalankan dengan serius dan niat yang kuat.

Usaha yang bisa dijalankan dengan modal kecil adalah usaha kuliner rumahan

Usaha kuliner merupakan salah satu jenis bisnis yang paling banyak peminatnya. Harus diakui, bisnis kuliner memang tidak ada matinya. Semakin banyak orang yang menggeluti bisnis ini. Sehingga menghadirkan beragam pilihan bagi pelanggan. Namun tidak semua orang yang menggeluti bisnis ini dapat bertahan lama. Hanya orang – orang yang bekerja keras yang dapat bertahan. Tidak hanya itu, kreatifitas dan inovasi juga diperlukan dalam menggeluti usaha ini. Dengan kompetisi dunia kuliner yang semakin ketat. Para penggelut bisnis kuliner juga harus lebih kreatif lagi. Bagi anda pembaca blog infopeluangusaha.org yang merupakan pemula di bisnis kuliner, beberapa hal dibawah ini harus anda perhatikan untuk dapat sukses.

Strategi agar Usaha Kuliner Untuk Pemula dapat berkembang :

Dengan Melihat Target Pasar

Tentukan target pasar anda secara spesifik. Target pasar adalah acuan untuk merancang strategi pasar. Target pasar meliputi umur, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, dan sebagainya. Setelah menentukan target pasar, anda dapat menentukan strategi kedepannya. Contohnya saja misalkan kita berencana membuka usaha kuliner di daerah kampus, maka yang cocok kita jual adalah makanan yang terjangkau dan tempat yang nyaman untuk kalangan mahasisiwa seperti warung nasi berkonsep cafe misalnya. Dengan pasar yang tertarget maka kita tidak akan kesulitan untuk menjual produk kuliner kita.

Memilih Lokasi Strategis

Lokasi menjadi sangat penting untuk di tetapkan sebelum usaha akan berjalan. Sebagai pilihan, bisnis kuliner bisa didirikan sendiri di wilayah ramai lalu lalang, ataupun bergabung di sentra-sentra para pedagang kuliner lainnya seperti food court ataupun pusat-pusat perdagangan makanan lainnya.

Selalu BerInovasi

Dengan semakin ketatnya persaingan di dunia bisnis kuliner, anda harus dapat menyiasati hal ini. Inovasi meliputi rasa, tampilan atau bentuk, kreasi dalam pembuatannya, dan cara penyajiannya. Inovasi ini juga harus disesuaikan dengan target pasar. Contohnya, jika target anda adalah anak sekolah, buatlah makanan dengan tampilan yang menarik bagi anak sekolah. Inovasi produk kuliner yang kita jual juga sangat penting agar konsumen tidak bosan untuk mengkonsumsi produk kita, selalu berikan variasi baru kepada jenis makanan yang kita

Manfaatkan Sosial Media

Perkembangan pengguna internet yang terus bertambah sekarang ini, bisa kita manfaatkan untuk menunjang bisnis kita agar semakin di kenal. Meski tidak kita gunakan untuk menjual produknya secara langsung, dalam hal ini bisa kita gunakan untuk berpromosi mengenalkan kuliner kita dengan lebih luas, seperti dengan mengenalkannya di berbagai media sosial. Cukup banyak sekarang ini pebisnis kuliner yang sukses dengan memanfaatkan internet sebagai salah satu langkah untuk promosinya.

Lakukan Inovasi

Jangan sampai Anda merasa cepat puas dengan produk yang sudah dibuat sebelumnya. Zaman akan terus berubah dan tren pun selalu mengikutinya. Maka dari itu, selain membuat produk dan menjaga kualitasnya, inovasi pun harus tetap dilakukan karena konsumen memang cenderung cepat merasa bosan. Jika usaha Anda tidak bisa mengimbanginya, konsumen bisa saja berpindah kepada kompetitor. Antisipasi perubahan konsumen ini dan jangan takut untuk mencoba hal-hal yang baru dan berbeda.

Pelayanan Terbaik

Pernahkah anda mendegar istilah yang menyatakan bahwa pembeli merupakan raja? Ya, pembeli adalah salah satu “raja” yang harus di layani dengan baik. Walaupun tidak sedikit yang memperlakukan kita dengan cara yang kurang baik. Namun, kita sebagai seorang pengusaha kuliner pemula maka harus di pertimbangkan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.

Promosi

Ada banyak cara dalam melakukan promosi, seperti promosi dari mulut ke mulut dari sahabat, kerabat dan keluarga. Namun anda juga bisa melakukan proosi online juga tentunya. Anda akan mudah mendapatkan planggan dengan melakukan promosi yang tepat.

Sekian tips usaha dan strategi agar senantiasa dapat berkembang

Dampak Industri 4.0 Bagi Pariwisata

Revolusi Industri sudah menjadi tuntutan sesuai kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindarkan. Kita harus siap menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan berfikir kritis, kreatif, komukasi, dan bekerjasama. Dengan harapan juga akan melahirkan generasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi.

Dalam mendorong pengembangan pariwisata, pada tahun 2018 Arief Yahya selaku menteri Pariwisata menekankan pentingnya perkembangan teknologi dalam mendorong sektor pariwisata di Indonesia.

Oleh karenanya Kementeriannya mendorong Pariwisata 4.0 agar membawa hasil signifikan pada sektor pariwisata Indonesia. Peringatan Hari Pariwisata Dunia (Word Tourism Day) sudah diperingati pada 28 september 2018 yang lalu dengan  membawa tema “Tourism and The Digital Transformation” atau sebagai Tahun Pariwisata dan Transformasi Digital.

 Pariwisata Indonesia telah memasuki era revolusi industri 4.0. Hal ini ditandai dengan berubahnya perilaku wisatawan yang sangat digital dan semakin dominannya wisatawan milenial.

“Sekitar 70% wisatawan melakukan search and share melalui platform digital dan lebih dari  50% inbound travellers kita adalah kaum milenial. Untuk itu, milenial harus memanfaatkan tourism 4.0sebagai sumber keunggulan kompetitif baru dalam memenangkan pariwisata di pasar global

Cepat atau lambat kemajuan ini akan terjadi di seluruh sektor. Sebagai persiapan menyambut era industri 4.0 Kemenpar kini sedang menyiapkan platform digital dengan nama New ITX  atau Indonesia Tourism Exchange. Platfom ini menjadi etalase produk pariwisata berwujud digital untuk mengakomodasi penggiat UMKM kecil, mikro, dan menengah

revolusi teknologi informasi digital pada bidang pariwisata yang dikenal dengan Pariwisata 4.0 telah dan akan terus membawa perubahan yang signifikan dalam penyelenggaraan kepariwisataan.

“Perubahan ini tidak hanya menciptakan berbagai peluang, namun juga berbagai tantangan bagi pariwisata pada setiap pilar kepariwisataan Indonesia dalam mencapai tujuan yakni mensejahterakan masyarakat Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya seperti termuat dalam keterangan resmi Selasa (17/9/2018).

Menurut Menpar, agar berhasil dalam penerapan sebuah teknologi membutuhkan kehadiran unsur kunci lainnya seperti sumber daya manusia (SDM) atau humanware, hubungan kerja/kolaborasi atau orgaware dan berbagai informasi deskriptif maupun preskriptif yang membuat teknologi tersebut dapat bekerja atau infoware.

Oleh karenanya ia mendorong Pariwisata Indonesia untuk mempunyai peran penting dalam menyongsong Pariwisata 4.0 terutama dalam kehadirannya di media sosial. Diharapkan para finalis dari generasi milenials itu bisa mem-viral-kan obyek-obyek wisata di destinasi wisata digital (digital destination) yang ada di seluruh Indonesia.

Travel Digital Milinieal Era

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Banyak kalangan menyebut anak-anak muda zaman now sebagai generasi millennial. Generasi ini lahir setelah zaman generasi  X, atau tepatnya  pada kisaran tahun 1980 sampai tahun 2000-an. Jadi dapat diperkirakan bahwa saat ini generasi millennial memiliki rentang usia 17 hingga 37 tahun. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 80 juta orang yang berusia antara 17 hingga 37 tahun.  Jumlah tersebut sangat banyak dan signifikan, mengingat populasi generasi millennial sudah mencakup 30 persen dari total penduduk di Indonesia.

Berdasarkan berbagai kajian dan penelitian yang telah dilakukan terhadap generasi millennial, ditemukan banyak perbedaan antara generasi ini dengan generasi-generasi yang lebih tua, seperti generasi silent, generasi boomer, maupun generasi X. Perbedaan tersebut terlihat dalam gambar di bawah ini.  

Dari gambar di atas, diketahui bahwa generasi millennial sangat dekat dengan teknologi. Kehidupan generasi ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan internet, berbeda dengan generasi X di mana pengaruh dari teknologi belum terlalu menonjol seperti saat ini. Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya. Ada pula perbedaan lain yang muncul antara generasi millennial dengan generasi-generasi sebelumnya, yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari. Ada kecenderungan bahwa generasi millennial lebih suka mendengarkan musik dan hang out asik bersama teman-temannya. Maka tak mengherankan bila banyak kafe atau tempat nongkrong lainnya yang ramai dikunjungi anak muda zaman now, karena itulah kehidupan sosial mereka.   

Dalam melakukan traveling cara millennial, mulai dari merencanakan hingga melakukan traveling, pasti berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Berkat lahirnya era digital dan teknologi yang terus-menerus berkembang, kita bisa melihat bagaimana gaya traveling si millennial ini.

Kalau generasi sebelumnya selalu mencari travel agent berlokasi dalam sebuah bangunan yang kemudian menawarkan produk lengkap tersedia di brosur tebal, berbeda dengan halnya millennial. Keberadan media sosial dan website traveling membuat mereka mudah mencari lokasi liburan

Ada pun travel agent masa kini lebih kepada sekumpulan orang pencinta traveling yang menawarkan paket menarik melalui internet. Bahkan biasanya sekumpulan anak muda dengan kehebatan koneksi mereka bisa membuat paket open trip ke suatu tempat wisata yang kekinian

Lagi-lagi berkat kemudahan teknologi, para traveler millennial kini juga tertarik membangun grup traveling sehingga bisa share cost untuk perjalanan yang lebih murah. Cukup dengan masuk di grup atau komunitas backpacker di media sosial misalnya, kemudian membuka percakapan dengan mengajak siapa yang mau gabung jalan-jalan dengannya. 

Saat melakukan kegiatan traveling, memposting foto saat mereka mengunjungi tempat wisata di media sosial, kini telah menjadi gaya hidup digital para kaum muda, khususnya generasi millennial. Alih-alih mengeksplorasi alam dan merasakan pengalaman budaya dan tradisi masyarakat setempat, prioritas millenial justru pada mengambil foto lokasi yang berkarakter instagramable.   

Destinasi wisata yang instagramable seperti inilah yang menjadi buruan para generasi muda kelahiran tahun 1980-200-an tersebut. Media sosial instagram pun menjadi salah satu acuan wisatawan dalam memilih destinasi dan menemukan ide berwisata. 

Sebuah penelitian yang dilakukan situs travel, Expedia, terhadap para traveler muda usia 18-34 tahun mengungkapkan dua dari tiga responden menyatakan instagrammability sebuah lokasi adalah faktor penting dalam memilih destinasi wisata, sebelum memesan tiket. 

Kurang puas rasanya kalau belum berbagi pengalaman traveling mereka di social media atau berbagi cerita perjalanan di blog. Kini semakin banyak travel blogger atau akun social media pribadi yang mencatat statusnya sebagai travel enthusiast. Dimulai dari akun pribadi, semua orang bisa tahu apa saja yang dilakukan para penikmat traveling ini.

Karena semakin transparannya para penikmat traveling yang bisa kita lihat di dunia maya, semakin banyak orang yang termotivasi untuk melakukan hal yang sama dan mengunjungi berbagai kota atau negara sebanyak mungkin. Bisa dibilang generasi millennial melakukan traveling bukan lagi hanya sebagai turis, tetapi lebih daripada itu. Mereka ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lokal.

Berkat adanya internet, para generasi millennial dapat dengan mudah melakukan perencanaan traveling dan menyebar luaskan apa yang sudah mereka alami. Membagikan momen-momen saat mereka berlibur ataupun mencari tempat wisata yang sedang hits dapat mereka lakukan dengan mudah.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Design a site like this with WordPress.com
Get started